Jangan Batalkan Rencanamu Hanya Karena Merasa "Pertanda Buruk" !
"Baru mau berangkat, tiba-tiba mendengar suara burung. Mau membuka usaha, ada yang berkata: 'Jangan sekarang, bulan Ṣafar kurang baik.' Hati pun menjadi ragu."
Pernah mengalami hal seperti itu.
اللَّهُمَّ لَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيْرُكَ.
"Ya Allah, tidak ada pertanda selain ketetapan-Mu, tidak ada kebaikan selain kebaikan-Mu, dan tidak ada Tuhan selain Engkau."
Lalu lanjutkan urusan dengan penuh keyakinan kepada Allah.
Burung Hantu Bukan Pembawa Kematian
Pada masa Jahiliah, burung hantu dianggap sebagai simbol kematian. Jika burung itu hinggap atau berputar-putar di atas rumah seseorang, mereka meyakini akan ada anggota keluarga yang meninggal.
Sebagian bahkan percaya bahwa roh orang yang terbunuh berubah menjadi burung yang terus menuntut balas dendam.
Semua keyakinan itu dipatahkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya:
«لَا هَامَةَ»
"Tidak ada hāmah."
Artinya, burung hantu bukan pembawa sial, bukan pertanda kematian, dan tidak memiliki kekuatan menentukan nasib manusia.
Bulan Ṣafar Bukan Bulan Sial
Hingga hari ini masih ada anggapan bahwa bulan Ṣafar identik dengan musibah, sehingga sebagian orang enggan menikah, membangun rumah, memulai usaha, atau mengadakan acara penting.
Padahal Rasulullah ﷺ telah bersabda:
«وَلَا صَفَرَ»
"Tidak ada (kesialan pada) Ṣafar."
Para ulama menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sedang membatalkan kepercayaan masyarakat Arab yang menganggap Ṣafar sebagai bulan penuh bencana.
Islam mengajarkan bahwa Ṣafar sama seperti Muharam, Rabiul Awal, Rajab, Ramadan, atau bulan lainnya. Tidak ada satu bulan pun yang membawa kesialan dengan sendirinya.
Musibah dan keberuntungan tidak ditentukan oleh nama bulan, melainkan oleh hikmah dan takdir Allah Ta'ala.
Ghul, Mitos, dan Ketakutan yang Dibesar-besarkan
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«وَلَا غُولَ»
Orang Arab dahulu percaya adanya makhluk gaib yang dapat berubah-ubah wujud, menyesatkan musafir, dan mencelakakan siapa saja yang ditemuinya.
Islam datang untuk meluruskan keyakinan tersebut. Bukan berarti jin tidak ada—karena keberadaan jin ditegaskan dalam Al-Qur'an—tetapi kepercayaan bahwa makhluk gaib memiliki kekuasaan mutlak untuk menentukan nasib manusia adalah keyakinan yang keliru.
Seorang mukmin diperintahkan berlindung kepada Allah, bukan hidup dalam ketakutan terhadap mitos.
Tauhid Mengalahkan Takhayul
Dari seluruh hadis ini, para ulama menyimpulkan bahwa ketika hati mulai dipenuhi prasangka buruk, obatnya bukan mencari hari baik, bukan mengganti tanggal, bukan meminta ramalan, dan bukan membatalkan rencana.
Obatnya adalah memperbarui tauhid.
Karena itu Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ لَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيْرُكَ.
Doa ini menanamkan keyakinan bahwa tidak ada yang mampu mendatangkan manfaat ataupun menolak mudarat selain Allah.
Jangan Takut pada Pertanda, Takutlah kepada Allah
Islam adalah agama yang membebaskan manusia dari belenggu rasa takut kepada selain Allah.
Tidak ada burung yang membawa sial.
Tidak ada bulan yang membawa celaka.
Tidak ada angka yang menentukan nasib.
Tidak ada mitos yang dapat mengubah takdir.
Yang ada hanyalah Allah, Rabb semesta alam, yang mengatur seluruh kehidupan dengan ilmu, hikmah, dan kasih sayang-Nya.
Karena itu, jika suatu hari hati merasa ragu karena mendengar "pertanda buruk", ingatlah sabda Nabi ﷺ. Mantapkan tauhid, panjatkan doa, lalu melangkahlah. Sebab, seorang mukmin tidak dipimpin oleh mitos, tetapi oleh iman. Tidak berjalan mengikuti takhayul, melainkan mengikuti petunjuk Rasul ﷺ.

Posting Komentar untuk " Jangan Batalkan Rencanamu Hanya Karena Merasa "Pertanda Buruk" !"
Posting Komentar